Sunday, May 18, 2014

Cara Menyambung Kabel RPM Meter (Tachometer)


Dapatkan uang Rp 500 ribu dari kartu Citibank, klik di sini.


Tachometer berfungsi untuk mengukur putaran engine dalam satuan RPM (Rotation Per Minute, putaran per menit). Lebih lanjut tentang fungsi RPM dapat dibaca di artikel "Apakah Fungsi Tachometer pada Kendaraan?".

Di pasaran, tachometer sering juga disebut RPM meter atau RPM saja. Penyambungan kabel tachometer sering menemui kendala karena tidak ada keterangan dari pabrikan. Penjual juga tidak tahu cara menyambung kable. Sedangkan mekanik hanya mengandalkan cara coba-coba, karena tidak mencatat dan tidak mengerti prosedur test, mekanik sering mencoba kombinasi yang salah dan sama berulang-ulang, yang beresiko merusak tachometer.




Lihat video tentang tiga origami model kapal berlayar bersamaan tanpa listrik, tanpa bahan bakar, tanpa tiupan angin. Kapal-kapal berwarna-warni tersebut berlayar cepat bersama-sama dengan bantuan reaksi kimia dari molekul-molekul air. Kapal terbuat dari material yang mudah ditemukan di rumah tangga, seperti: gabus (polystyrene), lembaran plastik, yang biasanya disia-siakan menjadi polusi tanah. Berbagai model kapal dapat dengan mudah dirakit. Sangat baik untuk belajar dan praktek mendesain kapal sederhana. Sehingga kapal ini dapat dijadikan mainan edukatif (educational toy) yang mendidik dan merangsang kreatifitas.                    


Untuk tachometer analog (dengan jarum) merk Garcons sebagaimana foto diatas, penyambungan kabelnya adalah:

Kabel kuning adalah tegangan positif disambung ke kunci kontak posisi ON.
Kabel hijau ke negatif atau body.
Kabel hitam untuk sensor putaran atau sinyal, disambung ke coil negatif, agar tachometer dapat ‘merasakan’ putaran engine.

Tachometer tersebut cocok untuk sepeda motor dengan engine 1 silinder 4 tak (4 siklus), seperti Honda dan umumnya sepeda motor saat ini.

Jika digunakan pada sepeda motor dengan engine 2 tak (2 siklus) dengan 1 silinder, maka RPM yang terbaca akan dua kali lipat RPM sebenarnya. Contoh engine 2 tak dengan 1 silinder adalah pada skuter Vespa dan Yamaha RX King.

Jika dipasang pada engine 4 silinder 4 tak dengan 1 coil, maka RPM yang terbaca akan 4 kali lipat. Tapi jika setiap silinder dari engine tersebut mempunyai 1 coil, maka RPM yang terbaca akan akurat. Karena tachometer hanya berpatokan pada 1 silinder.

Positif koil adalah tegangan positif dari aki yang melalui kunci kontak pada posisi ON, jadi positif koil bisa dijadikan sumber arus bagi RPM. 

Jika arus listrik yang suplai dari posisi ON kunci kontak sangat terbatas, misalnya karena kabel ON dari kunci kontak berukuran kecil, maka bisa disambung pada posisi kunci kontak ACC (accesories) jika ada. Posisi ACC adalah posisi kunci kontak saat diputar persis setelah posisi LOCK (kunci setang) atau OFF.

Dua kabel kecil berwarna merah dan hitam yang diikat menjadi satu adalah kabel untuk lampu penerangan tachometer.

Check dengan multitester apakah salah satu kabel lampu terkoneksi ke body tachometer, misalnya jika kabel hitam terkoneksi ke body maka kabel hitam adalah ground atau negatif, dan dapat dipastikan bahwa kabel merah adalah positif yang akan disambung ke switch (saklar) lampu kendaraan.

Jika tidak ada dari kedua kabel hitam dan merah tersebut yang terhubung ke body tachometer. Karena kabel untuk lampu pijar bisa dipasang bolak-balik, maka boleh menentukan sendiri kabel mana untuk positif yang disambung ke switch lampu kendaraan. Dan kabel lainya disambung ke body kendaraan sebagai ground atau negatif.

Jika ternyata kabel tachometer tidak sesuai dengan kode warna sebagaimana diatas, maka harus dicari dengan metoda matematika permutasi berikut: Ada tiga buah kabel yang harus dihubungkan dengan 3 buah komponen. Perlu dicari dulu jumlah kemungkinan kombinasi penyambungan. Menurut rumus permutasi akan didapat:

                     3 faktorial =   3 x 2 x 1 = 6 kemungkinan penyambungan.

Kemudian kita buat tabel penyambungan kabel dengan 6 kemungkinan, dengan warna kabel hitam, hijau, kuning, yang akan disambungkan ke:
                       negatif (-) atau body atau ground
                       positif (+) sebagai sumber daya bagi tachometer agar dapat bekerja
                      sinyal atau coil agar tachometer dapat mengukur putaran engine (RPM).

Perhatikan tabel di bawah, negatif (-) atau body selalu disambung lebih dulu dan dijadikan acuan awal saat menggunakan tabel. Karena jika salah sambung dengan body, resiko kerusakan tachometer sangat kecil.

Kabel sinyal atau coil selalu disambung paling akhir, karena coil menghasilkan tegangan tinggi induksi yang dapat merusak tachometer walau hanya satu kabel yang dihubungkan ke coil dan kabel lainnya menyentuh badan anda sehingga menjadi ground. Badan anda sudah cukup untuk mengalirkan tegangan tinggi dari coil melalui tachometer dan dapat merusak tachometer jika salah kabel.


Jika tachometer anda mempunyai kabel dengan warna yang berbeda dengan tabel, maka tabel dapat dimodifikasi agar sesuai dengan tachometer anda. Misal tachometer anda mempunyai kabel hitam, merah dan hijau, tidak ada kabel kuning. Maka ganti warna kuning pada tabel dengan warna merah, lalu tabel dapat dipergunakan.


Cara menggunakan tabel permutasi:

Start engine, biarkan dalam keadaan stasioner (tidak di gas). Agar mengurangi resiko yang dapat merusak tachometer, selalu sambung kabel yang diduga sebagai negatif (-) ke body terlebih dulu. Baru kemudian tempelkan kabel yang diprediksi sebagai positif dan sinyal (coil), cukup ditempelkan saja agar dapat segera dilepas jika salah agar tidak merusak tachometer. Khusus untuk kabel yang dihubungkan ke coil, gunakan alat yang terisolasi atau gunakan sarung tangan, karena tegangan induksi dari coil dapat membuat anda terkejut walau tidak fatal.

Lihat baris nomor 1, sambungkan kabel hitam ke body atau negatif (-). Lalu tempelkan kabel kuning ke positif aki, dan kabel hijau ditempelkan ke negatif coil. Lihat apakah jarum tachometer bergerak, jika tidak maka segera lepas kabel hijau dan kuning, jangan dibiarkan terlalu lama menempel karena karena dapat merusak tachometer. Tandai tabel pada baris 1 dan kolom Check dengan tanda kali (X) yang menyatakan cara pemasangan kabel tersebut salah, agar kita tidak mengulangi lagi cara tersebut.

Lanjutkan dengan baris nomor 2, sambungkan kabel hitam ke body atau negatif (-). Lalu tempelkan kabel hijau ke positif aki, dan kabel kuning ditempelkan ke negatif coil. Lihat apakan jarum tachometer bergerak, jika tidak maka segera lepas kabel hijau dan kabel kuning agar tachometer tidak rusak.

Lanjutkan ke baris 3, dan seterusnya sampai ditemukan pemasangan yang benar. Jika sudah ketemu, misalnya cara pemasangan nomor 4 adalah yang benar, maka tidak perlu melanjutkan ke nomor 5 dan 6, karena hanya ada satu cara pemasangan kabel yang benar, cara lainya dapat dipastikan adalah salah.

Matematika permutasi seperti diatas dapat juga dipakai untuk mencari kombinasi kabel dari komponen selain tachometer.

Untuk lebih jelasnya, skema berikut menggambarkan penyambungan 3 kabel utama dari tachometer.



Jelas terlihat bahwa kabel positif dari tachometer disambung ke kunci kontak (ignition switch). Kabel signal ke negatif coil sebelum platina (contact point) atau sebelum ignitor untuk kendaraan dengan sistem pengapian elektronik. Dan kabel negatif tachometer tersambung ke body kendaraan.

PERHATIAN: jangan menyambung kabel pada output coil. Pada output coil terdapat kabel yang berdiameter besar dengan isolasi yang tebal. Kabel output coil mempunyai ujung yang tersambung ke busi (spark plug) dan bertegangan tinggi (>10.000 volt), yang dapat merusak perangkat elektronik yang dilalui arus listrik bertegangan tinggi tersebut.

Sedangkan kabel untuk lampu tachometer sengaja tidak digambarkan karena biasanya tidak terlalu membingungkan. Hal ini untuk menjaga agar skema diatas tampak sederhana, mudah dibaca dan mudah dimengerti.

Fungsi coil sama dengan fungsi transformator, pada sistem pengapian digunakan untuk menaikkan tegangan. Trafo atau coil hanya dapat bekerja menaikkan atau menurunkan tegangan jika medan magnetnnya berubah-rubah, tidak statis. Perubahan medan magnet dapat dilakukan dengan arus bolak-balik (AC), atau dengan arus searah (DC) yang terputus-putus (berdenyut). Coil bekerja dengan prinsip induktor Ruhmkorff , dimana arus searah dibuat berdenyut agar coil dapat menaikkan tegangan. Platina (contact point) berfungsi untuk memutus arus dari kumparan primer coil ke body (ground), sehingga medan magnet coil akan runtuh dan menginduksikan listrik tegangan tinggi ke kumparan sekunder atau output coil. Tegangan tinggi output dari coil dapat melompati celah pada busi, sehingga menimbulkan percikan bunga api listrik di celah busi. Percikan api akan membuat gas terbakar, menimbulkan tekanan, dan mendorong piston sehingga menghasilkan daya mekanis. Pada sistem elektronik, platina digantikan oleh igniter. Karena platina / iginiter berfungsi mirip saklar On-Off, maka denyut tegangannya menjadi signal bagi tachometer untuk mengukur kecepatan putar engine.