Tuesday, April 30, 2013

Belajar Rumus Rank Untuk Kompetisi Olahraga


Kompetisi olahraga membutuhkan klasemen untuk menghitung poin agar dapat menentukan rangking pemenangnya. Pada lembar Excel terlampir terdapat rumus RANK untuk menentukan peringkat,  dan rumus  VLOOKUP untuk menampilkan masing-masing peserta pada setiap peringkatnya.


Pada sistem kompetisi penuh dan setengah kompetisi, klasemen atau stand dihitung dengan cara :

Menang mendapat 3 poin

Seri mendapat 1 poin

Kalah mendapat 0 poin

Jika ada peserta yang mendapat poin sama, maka peserta dengan jumlah skor terbanyak berhak mendapat klasemen lebih tinggi. Misal pada kompetisi sepak bola atau futsal, klub Ajaks dan Barcol mendapat poin yang sama yaitu 14, maka skor yang menentukan pemenangnya. Pada sepakbola atau futsal skor adalah jumlah goal yang berhasil dicetak.



Lihat pada gambar tampilan Excel diatas. Untuk menerapkan aturan tersebut, maka pada program Excel ini ditetapkan suatu angka Factor yaitu 10000, terlihat pada bagian kanan tabel besar. Angka ini berguna untuk membagi nilai skor (SCORE), dan hasil pembagian dijumlahkan dengan poin (POINT). Sehingga akan terdapat perbedaan pada club dengan poin yang sama. Sehingga program dapat mengetahui adanya perbedaan untuk menentukan ranking kepada klub Ajaks (14.0001) dan Barcol (14.0008).

Angka 10000 dipilih karena cukup besar sehingga jika skor dibagi angka 10000 tersebut tidak akan membuat perbedaan besar pada poin tapi cukup berbeda bagi program untuk menentukan perbedaan peringkat. Terlihat pada poin tabel, Barcol mendapat poin 14. Poin Barcol ditambah dengan skor 8 yang dibagi 10000 menjadi 14.0008. Angka desimal 0.0008 sudah cukup untuk program mengetahui bahwa Barcol lebih tinggi peringkatnya dari Ajaks.

Jika menggunakan angka kecil seperti 10 sebagai faktor pembagi skor. Jika jumlah skor adalah mencapai 15 seperti pada bulutangkis. Maka 15 dibagi 10 adalah 1.5, yang mana akan merubah nilai poin menjadi naik 1.5, hal ini tentu saja tidak sesuai aturan kompetisi.

Kolom FACTOR mungkin dapat membingungkan peserta. Karena itulah hurufnya diberi warna abu-abu. Kolom ini dapat disembunyikan (hide) agar mencegah salah paham.

Kolom RANK di paling kiri menghitung secara otomatis ranking atau peringkat dari setiap peserta atau club. Kolom WIN adalah jumlah kemenangan yang diraih peserta. DRAW adalah jumlah seri. LOSE adalah jumlah kekalahan.


Terlihat pada jendela Function Arguments sebagaimana gambar diatas, rumus RANK sangat sederhana. Number pada rumus tersebut adalah nomor yang akan dicarikan peringkatnya dari suatu data yaitu Ref. Pada gambar diatas Number adalah sel I8, dan Ref adalah data pada sel I8 sampai I15 atau kolom FACTOR. Tanda $ pada Ref berguna jika rumus dicopy-paste, tanda $ akan mengunci rumus agar hanya melihat (mereferensi) pada baris 8 sampai 15. Order adalah aturan peringkat, jika diketik 0 (nol) pada Order maka peringkat pertama (pemenang 1) akan diberikan pada Number dengan nilai tertinggi. Sebaliknya, jika pada Order diketik angka selain 0 maka peringkat pertama akan diberikan pada Number dengan nilai terendah.

Pada tabel kecil di kanan menampilkan peringkat yang diketik dan diurut dari paling kecil (pemenang) sampai paling besar (paling kalah, juru kunci). Tabel ini menggunakan rumus VLOOKUP. Rumus tersebut akan mencari club yang rangkingnya sesuai dengan rangking yang tertulis pada kolom RANK di tabel WINNER.

Tabel tersebut dapat dimodifikasi agar dapat menampung peserta yang lebih banyak dengan cara Copy -Insert Paste Cells pada baris yang mengandung rumus. Sel-sel yang berwarna biru mengandung rumus.

Monday, April 29, 2013

Rest Area at Purbaleunyi Toll Road km 97


Photo was taken at rest area km 97 Purbaleunyi or Cipularang (CIkampek PUrwakarta padalaRANG) highway, West Java - Indonesia. There plenty of souvenir factory outlets here. Scenery was viewed from a bridge above the highway at about 18.00, facing to north. Global Positioning System (GPS) coordinates -6.674817, 107.439621 . Zero point (0 km) of this toll road is in Cawang, Jakarta. This rest area is about 39 km from Pasupati flyover in Bandung. As seen on the highway, vehicles on the left side are going to Cikampek or Jakarta. While vehicles on the right side of the highway are going to Bandung.

Another photo of Purbaleunyi km 97

Are you looking for a high quality digital photo and video cameraas? Various camera brands like Canon, Nikon, Samsung, Panasonic, Fujifilm, Sony, Kodak, Olympus, Sanyo, infrared cameras, tripods, lenses, filters, bags, and much more, can be checked in "Best Seller Digital Cameras".


Foto diambil pada tempat istirahat km 97 jalan tol Purbaleunyi atau Cipularang (CIkampek PUrwakarta padalaRANG), Jawa Barat - Indonesia. Banyak toko factory outlet yang menjual souvenir di sini. Pemandangan dilihat dari jembatan di atas jalan raya sekitar pukul 18.00, menghadap ke utara. Global Positioning System (GPS) koordinat -6,674817, 107,439621 . Titik nol (0 km) jalan tol ini adalah di Cawang, Jakarta. Rest area ini sekitar 39 km dari jalan layang Pasupati di Bandung. Terlihat di jalan tol, kendaraan di sebelah kiri mengarah ke Cikampek atau Jakarta. Sedangkan kendaraan di sebelah kanan mengarah ke Bandung.

Foto lainnya dari Purbaleunyi km 97

Tuesday, April 23, 2013

Adjustable Twinkle Light 200 Watts 220 VAC Schematic


Attached below is a schematic diagram of twinkle light switch with adjustable frequency. It is using SCR (Silicon Controlled Rectifier) as switch. Twinkle light switch is often also referred as a flasher.

This twinkle switch can be used to turn on and turn off light or twinkling light and used as lighting or decoration for party, entertainment, shop display, celebration, Christmas, New Year, etc..

Attention: the whole circuit is connected directly to the high voltage 220 VAC, do not touching the circuit when connected to high voltage grid.

The design is simple yet very effective. This circuit has only two wires to connect, the first wire is connected to lamp (B), other wire is connected to the power grid 220 VAC via a fuse (F). High-voltage current will flow through the lamp (B), passing through the circuit, and out through the fuse (F). Circuit voltage is supplied directly by 220 VAC. Bulb and fuse help to protect circuit from high-voltage large current.

The circuit can also work with 110 VAC grid, by replacing bulb with 110 VAC bulb. Maximum bulb wattage is about 100 watts. Bulb wattage is limited by SCR and diode maximum current.

Video when testing the circuit can be seen on the article "Adjustable Twinkle Light Switch For 200 Watts Lamp”.



For circuit with greater power up to 2200 watts can be read in the article "Adjustable High Power 2200 Watts Twinkle Light". That big power circuit can drive a flip-flop lamps arrangement, which is 2 set of lamps turn on and off alternately. It is actually a modification of the above circuit schematic.

Electronic components used are as below:

B = bulb, incandescent lamp 220 V with a maximum power of 200 watts. Lamp power is limited by the maximum allowed current of SCR and diode (Dc). This bulb may consist of several parallel-connected lamps. Eg 40 pieces of 5 watts incandescent lamps are connected parallel, and to be installed as a decoration for road gate.

R = resistor, with rating of 56 kiloohms and 1 watt of power, serves to supply current to drive the circuit.

P = potentiometer, 5 kiloohms 1 watt, can be tuned to adjust twinkle frequency. This potentiometer should be well insulated, because it will be adjusted when the circuit is connected to the high voltage grid. If using low-quality potentiometer with no good insulation, can cause high voltage electric shock to someone who adjust twinkle light frequency.

D = Dc= diode, 1N4007, allow up to 1 ampere current at voltage up to 1000 volts. If you need to have more bulb power, for example 400 watts, then the current capacity of diode Dc at the output of SCR (cathode) should be risen, by replacing with a larger diode or 2 pieces of 1N4007 diode connected parallel. Diode on the cathode of SCR serves to ensure only the direct current that passes through the condenser (C), also protects the SCR from a high reverse voltage.

While diode between potentiometer (P) and the SCR anode prevents high voltage into the condenser (C), but allow dischargin current from condenser (C) so that bulb (B) can be turned off after that bulb was on.

Dz1 = 16 volts zener diode 1 watt, limiting the supply voltage to the condenser (C).

C = condenser, 220 microfarads 25 volts, this condenser determines twinkle frequency. Bigger condenser means lower frequency, so smaller condenser means higher frequency. As maximum voltage supplied to condenser is 16 volts, condenser with a maximum voltage specification of 25 volts is sufficient.

Dz2 = 6 volts 1 watt zener diode, determine the minimum value of condenser voltage in order to trigger the SCR, so that the SCR will connect and bulb will be turned on. When the voltage on the condenser is less than 6 volts, the SCR will be cut off and the bulb turned off.

SCR = Silicon Controlled Rectifier or Thyristor, with code number CV12C, a diode that will only connect it’s anode to cathode when there is trigger voltage on the gate, or in other words it is a switch. This SCR has 2 amperes maximum current, but to be safe you should not exceed 1 ampere by not installing bulb (B) greater than 200 watts. CV12C datasheet can be downloaded here. Can also use other SCR such as 2P4M, data sheet can be downloaded here.

For bulb (B) wattage up to 200 watts, SCR needs no additional heatsink. To make sure, check SCR temperature after working about 1 minute twinkling. Do not touch SCR unless both circuit wires are disconnected from hight voltage grid. Nothing heat also on cathode diode (Dc) for 200 watts load.

F = fuse, rating is depending to bulb (B) power (amps = power: voltage), if you use a 200 watts bulb, the fuse current is 200: 220 = 0.9 amperes, can use 1 or 2 amperes fuse. Fuse can be slightly larger than that current calculation. Because when bulb is turning on, bulb is drawing more current then when bulb is steadily on. But if you put too big fuse, then it does not protect the circuit.

The circuit can also be modified to become full wave, as below schematic.

For beginners, please do not try the full wave circuit, as the electric shock would be more dangerous. Very little chance for body reflex to pull limb to escape from electrical shock. On half wave circuit, there is lag time when no high voltage, this is a chance for body reflex to pull limb from contact with electric from grid.

As seen on full wave schematic, diode Dc is replaced by 4 diodes to form bridge. SCR circuit is similar to half wave. Note the IN and OUT points to connect bridge to SCR circuit. For safety, resistor R and zener Dz1 are replaced by 2 watts power capacity. Check if SCR needs heatsink. Twinkle frequency may change, so replace condenser C with a slightly bigger one to fit the desired frequency.

I myself prefer the half circuit. Because it is simpler, safer, and makes the light seemed to vibrate as the effect of half wave.

Skema Lampu Kedip 200 Watt 220 VAC Yang Dapat Disetel


Terlampir di bawah adalah skema untuk saklar lampu kedip yang dapat disetel frekuensi kedipannya. Saklar atau switch yang digunakan adalah SCR (Silicon Controlled Rectifier). Saklar lampu kedip sering juga disebut sebagai flasher.

Rangkaian switch lampu kedip ini dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan lampu atau cahaya berkelap-kelip yang diaplikasikan sebagai pencahayaan atau dekorasi untuk pesta, hiburan, tampilan toko, perayaan, Natal, Tahun Baru, dll.

Perhatian: seluruh rangkaian terhubung langsung dengan tegangan tinggi 220 VAC, jangan menyentuh rangkaian saat terhubung dengan tegangan tinggi.

Rangkaian ini hanya mempunyai dua kabel, kabel pertama tersambung pada lampu (B), kabel lainya tersambung pada jaringan listrik 220 VAC melalui sekring (F). Desainnya sederhana tapi sangat effektif. Arus bertegangan tinggi akan mengalir melalui lampu (B), melewati rangkaian, dan keluar lewat sekring (F). Rangkaian disuplai langsung oleh tegangan 220 VAC. Lampu dan sekring membantu memproteksi rangkaian dari arus besar bertegangan tinggi.

Video tentang test rangkaian ini dapat dilihat di artikel "Saklar Lampu Kedip 200 Watt Yang Dapat Disetel"



Untuk rangkaian dengan daya jauh lebih besar mencapai 2200 watt dapat di baca di artikel "Lampu Kedip Berdaya Besar 2200 Watt Yang Dapat Disetel' . Rangkaian berdaya besar tersebut dapat menyalakan lampu secara flip-flop, yaitu 2 buah rangkaian lampu yang nyala-mati secara bergantian. Sebenarnya berdaya besar tersebut hanyalah modifikasi dari rangkaian pada skema diatas.

Komponen-komponen elektronik yang digunakan adalah:

B = bulb, lampu pijar 220 V dengan daya maximal 200 watt. Daya lampu dibatasi oleh kemampuan SCR dan dioda mengalirkan arus. Bisa terdiri dari beberapa buah lampu yang disambung paralel. Misal 40 buah lampu pijar 5 watt yang disambung paralel, untuk dipasang pada gerbang jalan.

R = resistor, tahanan senilai 56 kiloohm berdaya 1 watt, berfungsi mensuplai arus kepada rangkaian.

P = potensiometer, sebesar 5 kiloohm berdaya 1 watt, dapat disetel untuk mengatur frekuensi kedipan. Potensiometer ini harus terisolasi dengan baik, karena akan disetel saat rangkaian tersambung jaringan tegangan tinggi. Jika menggunakan potensiometer kualitas rendah dan tidak bagus isolasinya, dapat menyebab orang yang menyetel kedipan lampu tersengat listrik tegangan tinggi.

D = Dc = dioda, 1N4007, mampu mengalirkan arus 1 ampere dengan tegangan mencapai 1000 volt. Jika perlu menambah daya lampu pijar, misal menjadi 400 watt, maka dioda Dc pada output (katoda) SCR harus diperbesar arusnya, dengan mengganti dengan dioda yang lebih besar atau 2 buah dioda 1N4007 disambung paralel. Dioda pada katoda ini berfungsi memastikan hanya arus searah yang melewati kondensor (C), juga melindungi SCR dari tegangan balik yang tinggi. Sedangkan dioda yang menghubungkan potensiometer (P) dengan anoda SCR berfungsi mencegah tegangan tinggi masuk ke kondensor (C), tapi dapat dilewati arus pengosongan dari kondensor (C) agar lampu pijar (B) dapat mati setelah menyala.

Dz1 = dioda zener 16 volt 1 watt, membatasi tegangan suplai ke kondensor (C).

C = condenser atau kondensor, senilai 220 mikrofarad 25 volt, kondensor ini menentukan frekuensi kedipan. Semakin besar nilai kondensor maka semakin rendah frekuensi kedipan, sebaliknya semakin kecil nilai kondensor maka semakin tinggi frekuensi kedipan. Karena tegangan yang disuplai kepada kondensor mencapai 16 volt, maka kondensor dengan spesifikasi tegangan maximal 25 volt sudah cukup memadai.

Dz2 = dioda zener 6 volt 1 watt, menentukan nilai minimal tegangan kondensor agar dapat memicu trigger SCR, sehingga SCR akan menyambung dan lampu pijar menyala. Jika tegangan pada kondensor kurang dari 6 volt, maka SCR akan memutus dan lampu pijar mati.

SCR = Silicon Controlled Rectifier atau Thyristor, dengan nomor kode CV12C, suatu dioda yang hanya akan tersambung anoda dengan katodanya jika ada tegangan picu pada gerbang (gate), atau dengan kata lain sebagai saklar (switch). SCR ini mampu mengalirkan arus maximal 2 ampere,  tapi agar aman sebaiknya tidak melebihi 1 ampere dengan tidak memasang lampu pijar (B) lebih besar dari 200 watt, unduh lembar data CV12C disini. Bisa juga menggunakan SCR nomor kode 2P4M, lembar datanya dapat diunduh di sini.

Untuk daya lampu (B) sampai sebesar 200 watt, SCR tidak membutuhkan keping pendingin (heatsink) tambahan. Untuk memastikan, periksa temperatur SCR setelah 1 menit berkedip. Jangan sentuh SCR, kecuali jika kedua kabel sirkuit sudah tidak terhubung ke jaringan tegangan tinggi. Dioda Dc juga tidak panas jika diberi beban 200 watt.

F = fuse, sekring, disesuaikan dengan daya lampu (ampere = daya : tegangan), jika menggunakan lampu 200 watt, maka arusnya yang melalui sekring adalah 200 : 220 = 0.9 ampere, bisa menggunakan sekring 1 atau 2 ampere. Sekring bisa sedikit lebih besar dari hasil perhitungan arus, karena pada saat lampu mulai menyala arus yang ditarik lampu lebih besar dari saat lampu sudah menyala stabil. Tapi jika memasang sekring yang terlalu besar maka tidak melindungi rangkaian.

Rangkaian juga dapat dimodifikasi agar menggunakan gelombang penuh sebagaimana skema dibawah.


Untuk pemula sebaiknya tidak menerapkan rangkaian gelombang penuh ini. Karena jika tersengat listrik akan sangat berbahaya. Sangat kecil kesempatan bagi gerakan refleks tubuh untuk menarik anggota badan yang tersengat listrik. Pada rangkaian setengah gelombang, ada jeda waktu dimana tidak ada tegangan tinggi, sehingga memberi kesempatan bagi refleks tubuh untuk menarik anggota badan yang tersengat listrik.

Terlihat pada rangkaian gelombang penuh, dioda Dc diganti dengan 4 buah dioda membentuk jembatan. Rangkaian pada SCR mirip dengan rangkaian setengah gelombang. Perhatikan titik IN dan OUT untuk menyambung rangkaian SCR dengan jembatan dioda. Demi amannya, resistor R dan zener Dz1  diganti dengan daya 2 watt. Periksa jika SCR panas maka perlu diberi pendingin. Frekuensi kedipan dapat berubah, sehingga kondensor C harus sedikit diperbesar agar sesuai dengan frekuensi yang diinginkan.

Saya sendiri lebih menyukai rangkaian setengah gelombang. Karena lebih sederhana, aman, dan membuat lampu tampak bergetar sangat menyala, sebagai efek dari hanya setengah gelombang dari tegangan tinggi yang dimanfaatkan.


Monday, April 15, 2013

Find GPS Destination By Start Point Coordinates, Heading & Distance


Following the article 'Calculating Heading Angle Or Bearing From GPS coordinates', in this article we discuss on how to calculate the GPS coordinates of the destination point, with start point coordinates, heading, and distance are known. For more details, please see the image below.



‘a’ is the heading angle, with 0 degree points north of the map, 90 degrees is east, 180 degrees is south, 270 degrees for west, and 360 degrees is equal to 0 degree or the north.

‘r’ is the distance from start point to finish point.

If start point is known, then the end point or finish or destination can be calculated.

Download here for Excel document that contains formulas to calculate automatically.

Please note the sequence of latitude-longitude coordinates, not to reverse. Google Maps uses a system of latitude and longitude (y and x), instead of as usual in mathematics longitude and latitude (x and y).

Heading at start and at finish are not always the same, especially for long distances. If we are near the equator, heading at start and at finish point can be almost the same. It is because of our position to the north and south pole are always about the same. For example a flight conducted along the equator toward the east (heading 90 degrees). As long as that aircraft is on the equator and towards the east, whereever its position, the north pole is always on the left, and the south pole is always on the right.

But for flight over the pole, for example the north pole, heading at the beginning of flight is 0 or 360 degrees. When passing over the north pole (90.0), the heading will change to 180 degrees. As flight pass over south pole (-90, 0), the heading will change back to 0 degree. So heading is not constant, although that flight is in a straight line circling the globe.

For example: a flight from Pulkovo International Airport, Saint Petersburg, Russia (59.800278, 30.262500). After taking off from Saint Petersburg, Russia; initial heading toward 0.147 or to the north. Flying to a distance of 6,570.679 km. If those data of starting point, initial heading, and distance are inputted on sheet 'end and midpoint'. Then the end point will be calculate at coordiantes (61.17417, -149.99833) the Ted Stevens Anchorage International Airport, Alaska, United States of America. When approaching Anchorage, heading is changed to 179.844 degrees or South (final heading). Even though the flight is along a straight line, to get the shortest distance.

So to clarify the flight path, it is needed to calculate also the Mid point, ie the point in the middle of a trip, coordinates are (89.309101, 36.265637). Direction of flight at this midpoint is 6,130 degrees.

Example for the region near the south pole: if you are flying from Wellington International Airport, New Zealand (-41.326698, 174.806857). After takeoff the aircraft will head 134. 528 or southeast. Flight distance of 8,569.730 km will at the end point (-41.438512, -73.094015) El Tepual International Airport, Puerto Montt, Los Lagos, Chile. Final heading is 45. 586 degrees before landing. Or heading to the northeast. This flight has midpoint at (-57.631250, -129.216744) near the south pole, the heading at that midpoint is 90 126 degrees or heading east.

Example to the equator: flight from the Supadio airport (-0.14735, 109.402585), Pontianak, West Kalimantan, Indonesia. After take off heading o 91. 920 degrees or to the east. After flying as far 19,173.059 km, will arrive at coordinates (-0.113333, -78.358611) the Mariscal Sucre International Airport, Tababela, Metro Quito, Ecuador. Final heading is 88 078 degrees or to the east.

That equator flight has mid-point at (-1.925201, -164.477443) near Jarvis islands, and heading to 89 983 degrees or to the east. So for flight along the equator, heading almost always constant around 90 degrees.

Earth radius used is 6,378.14 km, which is radius of the earth at the equator. Earth radius value can be adjusted for better accuracy, because the earth is not perfectly round. If using the average value of the earth hass 6371 km radius. While the Earth's polar radius is 6,356.7523 km.

When using Google Maps, coordinates of calculation result can be copied and paste in the Search box on Google Maps, then press the Search button. Google Maps will show the intended point on the map.