Thursday, April 26, 2012

Nilai Tabungan, Dana Pensiun, atau Investasi di Masa Depan


Beberapa produk bank atau finansial seperti tabungan berjangka, dana pensiun, tabungan pendidikan, asuransi, reksadana, beli-gadai emas, dan lain-lain, menerapkan suatu setoran wajib yang tetap setiap bulannya. Setelah suatu periode tertentu tabungan tersebut dapat dicairkan. Investasi seperti ini akan membuat kita disiplin menabung setiap bulannya. Hal ini juga memudahkan bank atau perusahaan finansial yang mengelola uang yang diinvestasikan karena bisa diprediksi pemasukannya, dan bisa ditanam atau diinvestasikan dengan waktu yang panjang karena kita atau pemilik modal tidak secara mendadak mencairkan investasi tersebut. 

Misal uang para nasabah ditanam di perkebunan sawit, industri otomotif, infrastruktur, telekomunikasi, properti, dan lain-lain, tentu akan membutuhkan waktu bertahun-tahun agar investasi tersebut berbuah. Itulah salah satu sebab mengapa beberapa investasi jangka panjang menawarkan tingkat bunga yang relatif tinggi, bisa diatas 10% per tahun.


Tapi kita akan bertanya-tanya, benarkan setelah puluhan tahun akan ada hasil seperti skenario yang ditawarkan? Dengan menggunakan lembar Exel terlampir, dapat dibuat simulasi investasi tersebut. Pada lembar tersebut ada 3 rumus perhitungan yaitu: fungsi FV dari Excel, tabel, dan rumus finansial.

Misal: suatu tabungan dana pensiun dengan setoran wajib Rp 500.000,- setiap bulannya. Tabungan ini mempunyai jangka waktu 30 tahun (360 bulan), dengan bunga tetap sebesar 10% per tahun. Inflasi dianggap tetap setiap tahunnya yaitu sebesar 8,08%. Nilai inflasi sebenarnya tidak tetap, berdasarkan data dari Bank Indonesia dari tahun 2001 sampai 2011 inflasi rata-rata adalah 8,08% per tahun, sebagaimana tabel dibawah. Inflasi aktual Indonesia di tahun 2011 adalah 3,79%. Bunga deposito biasanya sedikit diatas inflasi. Dengan target inflasi 2012 sebesar 4.5% per tahun, bunga deposito di bank saat ini sekitar 5.17% per tahun.


Dengan memasukkan data pada sel kuning pada lembar Excel terlampir, maka didapat data sebagaimana terlihat dibawah.



Terlihat ada 3 sel berwarna biru dengan angka 243,153,090. Itu adalah nilai akhir investasi tersebut setelah 30 tahun atau 360 bulan.

Pada bagian kiri, tampak perhitungan dengan fungsi FV (Future Value) yang tersedia di menu Excel. Perhatikan bahwa pembayaran bulanan (Monthly payment) diberi tanda negatif, karena bagi formula FV pembayaran adalah pengeluaran sehingga harus diberi tanda negatif. Formula ini akan dijelaskan lebih lanjut dibawah. Pada bagian bawah kiri terlihat keuntungan dari bunga sebesar 63.153.090 (Profit).

Pada bagian tengah terdapat perhitungan dengan menggunakan tabel. Terlihat detail nilai uang yang diinvestasikan setiap bulannya. Tampak pada tabel di awal investasi disetorkan 500.000,- . Setelah satu bulan nilainya berbunga sebesar 800, dan karena ada tambahan setoran pada bulan kedua maka total dana mencapai 1.000.800,- . Demikian seterusnya sampai 30 tahun. Tabel ini dapat menghitung sampai 40 tahun atau 480 bulan. Jika masih kurang dapat ditambah lagi dengan copy-paste.

Pada bagian kiri terdapat perhitungan dengan menggunakan rumus finansial Future Value annuity.


Formula FV
Berikut adalah langkah-langkah untuk mencantumkan rumus FV dari menu Excel. Pilih sel yang akan diisi rumus. Pada gambar dibawah tampak sebagai sel D12. Arahkan mouse (panah merah) ke Formula Bar, dan tekan tombol fx (Insert Function).


Selanjutnya akan muncul jendela yang berisi berbagai rumus Excel sebagaimana gambar dibawah. Pilih rumus FV, terlihat berlatar biru, lalu tekan tombol OK. Jika rumus tidak tampak dalam jendela Select a function, maka dapat dicari dengan mengetik FV pada jendela Search for a function, berlatar hitam, lalu tekan tombol Go, maka rumus FV akan muncul di jendela Select a function.


Kemudian terlihat jendela Function Arguments untuk rumus FV sebagaimana dibawah.

Tampak data suku bunga (Rate) adalah sel D10. Periode investasi (Nper) adalah jangka (Term) dikali 12 sehingga dihitung per bulan, dan terlihat sebagai sel D5 (Number of period) di jendela rumus. Pembayaran bulanan (Pmt) adalah sel D3 (Monthly payment), terlihat angka pada sel D3 diberi tanda negatif karena pembayaran adalah pengeluaran. Lalu tekan tombol Ok maka rumus akan tertulis dan berfungsi pada sel D12.




Anda dapat menghemat senilai Rp 500.000,- per bulan sebagaimana contoh diatas jika berhenti merokok, memperbanyak melakukan kegiatan fisik seperti tidak menggunakan kendaraan dan berjalan kaki sebagai transportasi jarak dekat, atau bersepeda. Jika anda sudah sering berjalan kaki maka dapat ditingkatkan dengan jogging seminggu sekali. Sehingga membuat anda lebih sehat dan jarang sakit, lebih produktif, lebih bahagia dan menikmati hidup, serta mengurangi ongkos pengobatan.

Beberapa investasi jangka panjang, tidak mempunyai tingkat pengembalian atau bunga yang tetap. Perhitungan yang dijelaskan disini hanyalah gambaran jika tingkat inflasi dan hasil persentase pengembangan investasi bernilai tetap atau bernilai rata-rata. Kinerja suatu produk investasi di masa lalu, tidak 100% dapat menjamin kinerja produk investasi tersebut di masa yang akan datang. Jadi jangan simpan telur di satu keranjang.

Tuesday, April 24, 2012

SUM and SUMIF Formulas in Excel


Many readers of this blog have asked for an explanation of the formulas of articles in this blog that use Microsoft Excel Spreadsheet. This way it will be free for them to modify that Excel sheet and make it better suit their needs.

To respond to those requests, now I will explain some formulas that I use in Excel Spreadsheet. SUM and SUMIF are the most often formulas I use.

SUM
SUM formula will add up numbers of all cells that contain number, see examples below.
The formula will add up all the numbers in the table on the left. If viewed in more detail will appear as shown below.


Look at the cell C3, a written formula =SUM(G2:G6), where the formula adds up all numbers in column G from row 2 to row 6. SUM function can be placed anywhere, not necessarily just below numbers that will add up, as if calculating manually. The important thing is to determine which numbers or cells or range that will be added up. Determination of cell can be by column, row, or even random.

Formulas in Excel can be manually typed in the cell. But for a clearer and more detail explanation, it is better to use the Insert Function in the Formula Bar as shown below.

The red arrow is mouse pointer and pressing the fx (Insert Function) on the Formula Bar, to fill the formula in cell C3. After the fx button is presse, then below window will appear.

Select the SUM formula in formula list, shown in blue color and press the OK button. Then it will appear a window like below picture. If the SUM formula is not visible, it can be searched by typing in ‘Search for a function’ window, it appears with black background, then type the Go button. Then the formula will appear in ‘Select a function’ window like above picture.


Select cells or range that will be added up, on the above picutre the range is G2 to G6 (G2:G6), then press Ok, then the formula will be written directly and function in cell C3. If the data are in separated cells or ranges, it can be added into the Number 2, Number 3, etc. up to 255 data. Figure below shows example of separated data. Those data are the same as above but broken down into 3 different tables.



SUMIF
SUMIF formula is used to add up data from multiple cells with specific criteria, not all data will be added up. See the picture below, SUMIF will add up only if data fit a certain criteria. It can be seen that SUMIF adds up ‘apple’ numbers and equal to 4.


If we look in the right table, there is number 1 and number 3 in cell adjacent to apple cells, so the SUMIF of apple will be = 1+3 = 4.

For mango, with a total of 8. If viewed in the right table, at every cell containing mango, adjacent to cell with number 2, 1, and 5. Then the SUMIF of mango will be = 2+1+5 = 8.


Similarly to orange, with a total of 7. If viewed in the right table, the cell containing orange, adjacent to the cell with number 7. Then the SUMIF of orange will also be a 7, because there is only one cell that contain orange.


Figure below shows the detail of the SUMIF formula.


The range in the formula above is column F from row 3 to row 8 where name of fruit are written, in the formula it is written as F3:F8. The criteria used is cell B6, which is apple. Whereas the cells that will be added up are in the column G with row 3 to row 8 or G3:G8. So the formula will read the criteria in cell B6 as apple, then look for cells that contain apple in column F of row 3 to 8, and then summing cells in column G which adjacent to cells which are containing apple.

SUMIF formula can be applied to data that is written horizontally, see picture below. It can be seen fruit names arranged horizontally, with numbers below fruit. On smaller table under the large table, it appears the sum in accordance with the formula SUMIF criteria. Because this horizontal arranged data is exactly the same as above data, which is arranged vertically, then the sum of SUMIF for each criterion is the same, ie 4 for apple, mango 8, and 7 to orange. But horizontal arranged data is rather confusing and not commonly used.


Details of steps to implement the SUMIF formula is as follows. Select the cell that will contain the formula, shown in the figure below is C6. Press the fx (Insert Function) in the formula bar as shown by the red arrow.


Then it will appear a window as below. Select with mouse SUMIF formula, as in picture it has blue background, then press OK. If the formula does not appear on the list then can search by writing on the window ‘Search for a function’ and press Go.



The next display will appear as shown below. With the Range column F from row 3 to row 8 (F3: F8) contain names of fruit. Criteria is the cell B6, the apple, so the formula will calculate apple data only. Sum_range is an area where data is retrieved, it is column G rows 3 to row 8 (G3:G8), and formula will only add up apple data. It can be seen the figure 4 below Sum_range line, this figure to check whether the formula is correct. And apple indeed has data with number 1 and 3, so 1+3 = 4, therefore the formula is correct. So then the OK button can be pressed.


Do the same for the mango and orange. Formula can be copied and paste and then change their parameters.

In the Inventory Control Program, SUMIF formula is used to calculate data in different sheet, as shown below. Can be seen in Formula Bar,  the criteria in SUMIF formula is in ‘register’ sheet, while calculated data in ‘transaction’ sheet. SUMIF is used to calculate the transaction with criteria is a specific part number (P/N).




Monday, April 23, 2012

Rumus SUM dan SUMIF pada Excel


Sudah banyak pembaca blog ini meminta penjelasan tentang rumus-rumus yang diterapkan pada artikel-artikel di blog ini yang memakai Microsoft Excel Spreadsheet. Karena mereka ingin memodifikasi data di lembar Excel tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

Guna menanggapi permintaan tersebut maka saya akan menjelaskan rumus-rumus yang biasa saya pakai dalam Excel Spreadsheet. Rumus yang paling sering saya pakai yaitu SUM dan SUMIF

SUM
Pada rumus SUM, akan menjumlah semua sel yang mengandung angka, lihat contoh dibawah.




Formula akan menjumlah semua angka pada tabel di sebelah kiri. Jika dilihat lebih detail akan terlihat sebagaimana gambar dibawah.


Terlihat pada sell C3, tertulis rumus =SUM(G2:G6), dimana rumus tersebut menjumlah semua angka yang ada pada kolom G dari baris 2 sampai baris 6. Fungsi SUM ini dapat diletakkan dimana saja, tidak perlu harus tepat di bawah angka-angka yang akan dijumlah, sebagaimana jika menghitung secara manual. Yang penting adalah menentukan angka-angka atau sel-sel mana saja atau range yang akan dijumlah. Penentuan sel dapat mengikuti kolom, baris, atau bahkan acak.

Rumus pada Excel dapat diketik secara manual pada sel. Tapi untuk lebih jelas dan lebih detail sebaiknya menggunakan Insert Function pada  Formula Bar sebagaimana terlihat digambar bawah.


Terlihat panah merah dari mouse mengarah dan menekan tombol fx (Insert Function) pada Formula Bar, untuk mengisi rumus pada sel C3. Setelah tombol fx ditekan maka akan muncul tampilan berikut.


Pilih rumus SUM di daftar rumus, terlihat dalam warna biru dan tekan tombol OK. Selanjutnya akan muncul tampilan seperti di bawah. Jika rumus SUM tidak terlihat, maka dapat dicari dengan mengetik pada jendela Search for a function, tampak berlatar hitam, lalu ketik tombol Go. Maka rumus akan tampil dalam jendela Select a function seperti gambar diatas.


Pilih sel-sel atau daerah (range) yang akan dijumlah, digambar atas terlihat G2 sampai G6 (G2:G6), lalu tekan Ok, maka rumus langsung tertulis dan berfungsi pada sel C3. Jika data berada pada sel-sel atau daerah-daerah terpisah maka dapat ditambahkan pada Number 2, Number 3, dst sampai 255 data. Gambar dibawah memperlihatkan data yang terpisah-pisah. Data tersebut adalah data yang sama dengan diatas tapi dipisah-pisah dalam 3 tabel yang berlainan.




SUMIF
Rumus SUMIF digunakan untuk menjumlah data dari beberapa sel dengan kriteria tertentu, tidak semua data akan dijumlah. Secara sederhana SUMIF dapat diartikan sebagai ‘menjumlah jika’. Lihat gambar dibawah, SUMIF akan menjumlah jika sesuai dengan kriteria. Tampak SUMIF menjumlah data  apple dengan jumlah 4.


Jika dilihat di tabel sebelah kanan, pada setiap sel yang berisi apple bersebelahan dengan sel yang tertulis angka 1 dan 3, sehingga SUMIF dari apple akan menjumlah = 1+3 = 4.

Untuk mango yang berjumlah 8. Jika dilihat di tabel sebelah kanan, pada setiap sel yang mengandung mango, bersebelahan dengan sel yang tertulis angka 2, 1, dan 5. Maka SUMIF dari mango akan menjumlah = 2+1+5 = 8.

Demikian juga untuk orange yang berjumlah 7. Jika dilihat di tabel sebelah kanan, pada sel yang mengandung orange, bersebelahan dengan sel yang tertulis angka 7. Maka SUMIF dari orange juga akan menjadi 7, karena hanya ada satu sel yang mengandung orange.

Gambar dibawah memperlihatkan detail dari formula SUMIF.


Terlihat pada rumus tersebut range yang digunakan adalah kolom F dari baris 3 sampai 8 dimana terdapat nama-nama buah, tertulis pada rumus sebagai F3:F8. Kriteria yang dipakai adalah sel B6, dimana tertulis apple. Sedangkan sel-sel yang akan dijumlah adalah kolom G dengan baris 3 sampai 8 atau G3:G8. Jadi rumus akan membaca kriteria pada sel B6 yaitu apple, lalu mencari sel yang mengandung apple pada  kolom F dari baris 3 sampai 8, dan kemudian menjumlahkan sel-sel pada kolom G yang mana disebelah kirinya mengandung tulisan apple.

Rumus SUMIF dapat diterapkan pada data yang ditulis secara horisontal, lihat gambar dibawah. Terlihat nama-nama buah tersusun horisontal, dengan angka dibawahnya. Pada tabel yang lebih kecil dibawah tabel besar, tampak hasil penjumlahan sesuai kriteria dengan rumus SUMIF. Karena data horisontal ini sama persis dengan data diatas, yang tersusun vertikal, maka hasil penjumlahan SUMIF untuk setiap kriteria juga sama, yakni 4 untuk apple, 8 mango, dan 7 untuk orange. Tapi data yang tersusun horisontal agak membingungkan dan tidak umum dipakai dalam membuat tabel.



Detail dari langkah-langkah untuk menerapkan rumus SUMIF adalah sebagai berikut. Pilih sel yang akan diisi rumus, terlihat pada gambar dibawah adalah sell C6. Tekan tombol fx (Insert Function) pada Formula Bar seperti yang ditunjuk oleh panah merah.


Maka akan muncul tampilan seperti dibawah. Pilih dengan mouse rumus SUMIF, terlihat berlatar biru, lalu tekan OK. Jika rumus tidak terlihat pada daftar maka dapat mencari dengan menulis pada jendela Search for a function lalu tekan Go.


Selanjutnya tampilan akan tampak seperti gambar dibawah. Dengan Range kolom F baris 3 sampai 8 (F3:F8) berisi nama-nama buah. Criteria adalah sel B6, yaitu apple, agar rumus hanya menghitung data apple. Sum_range adalah daerah dimana data akan diambil yaitu kolom G baris 3 sampai 8 (G3:G8), dan yang dijumlah hanyalah data apple saja. Tampak terlihat angka 4 dibawah baris Sum_range, angka ini untuk mencheck apakah rumus sudah benar. Dan memang jumlah data apple adalah = 1+3 = 4, jadi rumus sudah benar.  Maka kemudian tombol OK bisa ditekan.


Lakukan hal yang sama untuk mango dan orange. Rumus dapat dicopy-paste dan kemudian dirubah parameter-parameternya.

Pada Program Inventori Kontrol, terlihat rumus SUMIF digunakan untuk menghitung data pada lembar (sheet) yang berbeda, seperti gambar dibawah. Pada Formula Bar terlihat rumus SUMIF dengan kriteria pada lembar register, dan data yang dihitung ada pada lembar transaction. SUMIF digunakan untuk menghitung transaksi pada suatu kriteria yaitu part number (P/N) tertentu.



Saturday, April 21, 2012

Making Cheap Electromagnet With Fluorescent Lamp Ballast


Electromagnet is a magnet made by running a flow of electric current through coil of wire on a core made of ferromagnetic material, usually iron.

To create a strong electromagnet, it is required very long of enamelled wire to make many windings, the more wire turns the stronger magnetic field. But enamelled wire price is quite expensive, for 0.3 mm diameter can reach US$ 0.1 per meter. The price may be cheaper if purchased in large quantities, and in units of kilograms with price about US$ 11/kg at retailers in Jakarta. Even if the enamelled wire has already available, there will be problem to make winding. It needs to have a special tool to make a good winding. Alternator and electric motor repair shop can help to make a good winding, but must spend some money for that service.

There is an easy yet inexpensive way to make an electromagnet, by using coil of ballast fluorescent lamp. Find an used ballast as the photo below, this ballast works with voltage 220 volts and power 20 watts. Check with ohmmeter whether both connectors are connected, if not connected means the inside coil was broken. That broken coil can still be used if the disconnected wire is in the top layer of winding, so that broken wire can be reconnected or just remove the remaining length of wire. If buy a new ballast, the price is about US$ 1.60 each.

Electromagnet can also be made from a transformer, it has great strength with 'E' shaped iron core, please read here.

Remove ballast cover plate, remove also magnet core plates that are mounted on the coil. Coil will be obtained as the photo below.


Connect both ends of the coil enamelled wire with a longer cable. Then wrap the coil with insulation to avoid damage and loose. Too much insulation will weaken magnetic field.

Cut two pieces of ballast housing plates as the photo below. Drill two holes of 3 mm diameter for bolts, make sure those two holes at the same position on each plate. Those holes will be used by bolts and pass through the empty space in the center of coil. Both plates will be fitted to clamp coil and hold by two bolts.


Prepare some pieces of small nails. Nails will be filled into the inside of the coil and serves as coil corel. Nails that I use are one-inch sized, the smaller the better because it makes a solid coil core thus strengthening the magnetic field generated. Please note that magnetic field of the iron core is stronger than steel core. Because iron is easily rusted, so I am looking for nails with a bit rusty, to make sure the nails are made of iron, not steel. The nail head should be cut off to reduce empty spaces inside the core and make it more solid. But since I will use those nails for other purposes, so I leave those nails in their original shape.


Plates of original ballast core can also be used for electromagnet core, but should be cut in order to be filled into the center of the coil.

Prepare two M3 sized screws with a length of about 20mm, complete with two washers and nuts on each bolt, as shown in the photo below.


Fit those two screws on one plate, with one washer on each bolt. Washer serves to widen the surface of bolt pressure to plate. Place the coil on the side of the plate where there are threads of bolts. Then fill some nails into the inside of coil.


Shown in the picture above the plate that has two bolts, coil is placed over the plate, and loaded nails inside the coil. Also can be seen plates with insulation layer, which aims to provide better protection to the coil. But that plate insulation is not very important and can be eliminated if we require a stronger magnetic field.

After fill in enough nails into the coil, fit the other plate to cover the coil. Tie the two plates to make them clamp the coil tightly by placing and tightening nuts on both bolts. Do not forget to install rings between plate and nut to distribute pressure of bolts and nuts on plates. Be sure not to have any nail stuck between coil and plates, pinched nail could damage enamelled wire.

Finished electromagnet will be look like below photo. Shown the coil is clamped by plates with nuts and bolts. Also shown two cables are connected to the coil.


This electromagnet is capable of lifting 120 grams load with voltage 12 volts, and will draw current of about 0.23 amperes, with about 2.8 watts of power. Coil resistance is 51.6 ohms. Video below shows the coil is lifting 3 pieces of small gears.


If powered by 30 volts, this electromagnet can lift loads weighing 340 grams, and requires current of 0.57 amperes, with a power of about 16.9 watts. Video below shows the coil lifts 1 piece of big gear plus 2 small pieces of small gears.


I made this electromagnet at no cost at all. Ballast was hiding for about 20 years in the garage, because the fluorescent light was replaced with compact fluorescent lamp (CFL) which is cheaper and more practical and using electronic ballast.

Magnetic force will be stronger with bigger current and more winding. I haven't tried to unravel glued ballast coil yet. If ballast coil enameled wire is rewinded with smaller diameter coil to get more winding, then we can get a much more powerful electromagnet.

This electromagnet can be used as component for: actuator, inductor, door bell, toy, experiment, relay, door lock / slot electromagnet, etc..

Friday, April 20, 2012

Membuat Elektromagnet Murah Dari Neon Ballast Koil


Elektromagnet adalah suatu magnet yang dibuat dengan mengalirkan arus listrik pada kabel yang dililitkan atau dikumpar pada suatu inti yang terbuat dari bahan ferromagnetic, biasanya besi.

Untuk membuat elektromagnet yang kuat dibutuhkan kawat enamel yang panjang agar jumlah lilitannya banyak, semakin banyak lilitan maka semakin kuat medan magnetnya. Kawat enamel kadang disebut sebagai kawat email atau kawat magnet, tapi sebenarnya lapisan isolasinya adalah enamel bukan email. Harga kawat enamel cukup mahal, untuk diameter 0.3 mm dapat mencapai 1.000 rupiah per meter. Harganya dapat lebih murah jika membeli dalam jumlah banyak, dan dalam satuan kilogram dengan harga sekitar Rp 100.000/kg di pengecer di Jakarta. Jikapun kawat enamel sudah dimiliki, akan ada masalah dalam menggulung. Untuk menggulung dengan rapi harus punya alat penggulungnya. Bisa digulung oleh bengkel reparasi alternator dan motor listrik, tapi harus mengeluarkan biaya untuk jasa penggulungan tersebut.

Ada cara mudah dan murah untuk membuat elektromagnet, yaitu dengan memakai koil dari ballast lampu neon (flourescent lamp). Cari sebuah ballast bekas seperti foto dibawah, ballast ini bertegangan 220 volt dan daya 20 watt. Check dengan ohmmeter apakah kedua konektornya masih terhubung, jika tidak terhubung berarti koil di dalamnya sudah putus. Koil yang sudah putus masih bisa digunakan asal kawat enamel yang terputus berada pada lapisan gulungan atas, sehingga bagian yang putus dapat disambung atau dibuang saja panjang kawat yang tersisa. Jika membeli baru harganya berkisar Rp 15.000,- sebuah.


Elektromagnet juga dapat dibuat dari trafo, kekuatannya sangat besar karena inti besi yang berbentuk seperti huruf 'E', silahkan baca disini.

Bongkar pelat yang menutup ballast tersebut, bongkar juga pelat-pelat inti magnet yang terpasang pada koil. Maka akan didapat koil sebagaimana foto di bawah.


Sambung kedua ujung kawat enamel dari koil dengan kabel yang lebih panjang. Lalu bungkus koil dengan isolasi agar tidak mudah rusak dan terurai. Jika isolasi terlalu tebal maka medan magnet menjadi lemah.

Potong dua buah pelat dari rumah ballast sebagaimana foto dibawah. Bor dua buah lubang diameter 3 mm untuk lubang baut, pastikan kedua lubang pada posisi yang sama di setiap pelat. Lubang tersebut akan dilalui oleh baut dan melewati bagian tengah koil yang kosong. Kedua pelat ini nantinya akan dipasang menjepit koil dengan ditarik dua buah baut.


Siapkan beberapa buah paku kecil. Paku ini akan diisikan ke bagian dalam koil dan berfungsi sebagai inti kumparan. Paku yang saya gunakan adalah berukuran satu inci, semakin kecil semakin baik karena membuat inti kumparan menjadi padat sehingga memperkuat medan magnet yang dihasilkan. Perlu diketahui bahwa inti kumparan dari besi lebih kuat medan magnetnya dari pada baja. Karena besi mudah berkarat, maka saya mencari paku yang agak berkarat, untuk memastikan paku tersebut terbuat dari besi, bukan baja. Memang sebaiknya memotong bagian kepala paku agar mengurangi bagian kosong pada inti agar lebih padat. Tapi karena saya masih akan menggunakan paku tersebut untuk keperluan lain, maka paku-paku tersebut saya biarkan sebagaimana adanya.


Bisa juga menggunakan potongan pelat dari inti ballast sebagai inti elektromagnet, tapi harus dipotong-potong agar dapat diisikan ke dalam bagian tengah koil.

Siapkan dua buah baut ukuran M3 dengan panjang sekitar 20mm, komplit dengan dua buah ring dan mur pada setiap baut, sebagaimana terlihat pada foto dibawah.


Pasang kedua baut pada salah satu pelat, dengan satu buah ring pada setiap baut. Ring berfungsi untuk meratakan tekanan baut pada permukaan pelat. Letakkan koil atau kumparan ballast pada sisi pelat dimana terdapat ulir baut-baut. Lalu isikan paku-paku di bagian dalam kumparan.



Tampak pada gambar diatas pelat yang sudah pasang dua baut, koil diletakkan diatas pelat tersebut, lalu diisikan paku-paku di dalam koil. Juga tampak bagian dalam pelat diberi lapisan isolasi, yang bertujuan memberi perlindungan lebih baik pada koil. Tapi sebenarnya isolasi pada pelat tidak terlalu penting dan boleh ditiadakan jika membutuhkan medan magnet yang lebih kuat.

Setelah paku cukup memenuhi bagian dalam koil, pasangkan pelat yang satunya lagi untuk menutup koil tersebut. Ikat kedua pelat agar menjepit koil rapat-rapat dengan memasang mur pada kedua baut. Jangan lupa memasang ring diantara pelat dan mur untuk meratakan tekanan baut dan mur pada pelat. Pastikan jangan ada paku yang terselip diantara koil dan pelat, paku yang terjepit dapat merusak kawat enamel.

Bentuk elektromagnet yang sudah jadi akan terlihat seperti foto di bawah. Tampak kedua pelat menjepit kumparan dengan mur dan baut. Tampak juga ada dua kabel yang tersambung pada kumparan.


Elektromagnet yang saya buat mampu mengangkat beban seberat 120 gram jika diberi tegangan 12 volt, dan akan menarik arus sekitar 0.23 ampere, dengan daya sekitar 2.8 watt. Resistansi koil adalah 51.6 ohm. Terlihat pada gambar video di bawah saat koil mengangkat 3 buah roda gigi kecil.




Jika diberi tegangan 30 volt, elektromagnet ini mampu mengangkat beban seberat 340 gram, membutuhkan arus sebesar 0.57 ampere, dengan daya sekitar 16.9 watt. Terlihat pada video dibawah saat koil mengangkat 1 buah roda gigi besar ditambah 2 buah roda gigi kecil.



Elektromagnet murah ini saya buat tanpa biaya sepeserpun. Ballast tersebut sudah sekitar 20 tahun bersembunyi di garasi, karena lampu neon diganti dengan lampu neon kompak (Compact Flourescent Lamp / CFL) yang lebih murah dan praktis dan menggunakan elektronik ballast.

 Daya magnet akan semakin kuat jika arus semakin besar dan jumlah lilitan semakin banyak. Saya belum sempat mencoba mengurai gulungan ballast yang dilem tersebut. Jika kawat enamel ballast diurai lalu digulung ulang dengan diameter gulungan yang lebih kecil, sehingga jumlah gulungan jadi lebih banyak, maka daya elektromagnet akan jauh lebih kuat.

Elektromagnet ini dapat digunakan sebagai komponen pada: aktuator, induktor, bell, mainan, alat experimen, relay, kunci pintu / slot elektromagnet, dll.