Wednesday, December 13, 2017

Bus Udara Tranportasi Publik Masa Depan




Artikel ini tentang estimasi ongkos ticket helikopter yang terjangkau, jika digunakan sebagai transportasi massal untuk rute Bogor, Depok, Jakarta pergi pulang. Tentu saja bisa diterapkan untuk wilayah sekitar Jakarta lainnya termasuk Tanggerang dan Bekasi yang terkenal macet setiap hari, terutama pada jam sibuk. Jika bisa menggunakan helikopter produksi PTDI, maka akan membantu PTDI juga.

Rusia negara terluas, puluhan tahun gunakan helikopter Mil Mi 26 kapasitas 90-150 orang, untuk transportasi ke tempat terpencil.


Foto Mil Mi 26 dari airplane-pictures.net

Amerika Serikat sudah lama operasikan Boeing CH-47 Chinook kapasitas 55 orang.


Foto Boeing CH-47 Chinook dari Wikipedia

Karena efektif dan ekonomis, heli-heli besar itu terus diproduksi dan dikembangkan di negaranya, dipakai banyak negara, juga PBB sebagaimana foto Mil Mi 26 di atas. Kedua helikopter tersebut rencananya akan dipakai TNI.

Tak butuh jalan, jembatan, rel, runway; cukup heliport saja, diprediksi jadi transportasi masa depan. Biaya infrastruktur dialihkan sedikit untuk beli helikopter.

Karena harga tanah sangat mahal di Jakarta, heliport bisa ditempatkan di atas gedung parkir, berada dekat terminal busway atau kereta api komuter agar penumpang mudah transit. Heliport juga bisa ditempatkan di atas terminal busway atau di atas stasiun kereta komuter. Tentu saja harus dicheck dulu oleh safety officer.

Secara perhitungan teoritis:
Mil Mi 26  kapasitas 90 orang
seharga US$ 11-25 juta
rute Bogor-Jakarta +-50 km
dengan kecepatan 200 km/jam akan ditempuh +-15 menit
estimasi harga ticket Rp 200.000/orang/trip
untuk Depok-Jakarta adalah setengahnya yaitu Rp 100.000/orang/trip.
Kalkulasi menggunakan angka-angka yang didapat dari berbagai situs, diambil nilai yang rata-rata dan yang dianggap moderat.

Cepat dan aman dibanding ojek, taxi, mobil pribadi. Jika Jakarta banjir: ojek, taxi, bus, kereta api, semua macet; helikopter tetap operasional.

Juga menimbang macet Jakarta memboroskan 67,5 triliun/tahun mubazir, sebagaimana dianalisa oleh Bappenas.

Sebagai perbandingan, walau tidak sama persis ukuran helikopternya, tapi cukup untuk menggambarkan ongkos ticket yang dapat dicheck dari harga rental dari aircharterguide berikut:
Mil Mi 8 kapasitas cuma 22 orang
harga US$ 4.5-11juta
rental rate $2500/hour
15 menit/trip
estimasi ticket Rp 400.000/orang/trip untuk Bogor-Jakarta
dan untuk Depok-Jakarta adalah setengahnya yaitu Rp 200.000/orang/trip
Dikalkulasi dengan membagi rental rate per hour dengan jumlah penumpang yang dapat diangkut setiap jam.


Foto Mil Mi 8 dari Wikipedia

Mil Mi 8 diperkenalkan tahun 1967 dan produksi masih berlanjut sampai sekarang. Helikopter ini paling banyak diproduksi di dunia melampaui 17.000 unit total. Karena sangat popular maka harga bekasnya pun masih cukup tinggi sekitar US$ 4.5 juta tergantung kondisi. Disusul dengan Bell UH-1 Iroquois diproduksi lebih dari 11.582 unit, sebagaimana dapat dibaca di Wikipedia.

Harga baru Boeing CH-47 mencapai US$ 38,55 juta, lebih mahal dari Mil Mi 26 dan penumpangnya jauh lebih sedikit. Maka harga ticketnya bisa lebih mahal dari Mil Mi 26. Tapi pernah ada beberapa unit yang dijual bekas dengan harga sangat murah, sampai serendah US$ 3 juta, tahun produksi 1990, sebagaimana diberitakan bizjournals. Sepertinya sudah tidak layak untuk mengangkut penumpang, sehingga perlu rekondisi. Jika setelah rekondisi harganya masih di bawah Mil Mi 26, maka ongkos ticketnya bisa lebih murah dari Mil Mi 26. Tidak perlu rekondisi dengan standard militer, cukup standard sipil saja.

Menurut Pakistan Defence, karena lebih ringan CH-47 konsumsi bahan bakarnya jauh lebih irit dibanding Mil Mi 26. Konsumsi bahan bakar yang irit bisa menurunkan harga ticket secara signifikan.

Mil Mi 26 dan Boeing CH-47 belum ketemu rental cost yang mirip kondisi Jabodetabek, ukurannya sangat besar sehingga jarang dioperasikan swasta, biasanya utilisasi +-1 jam/hari.

Sebagai komuter Jabodetabek utilisasinya akan tinggi +-8 jam/hari, yaitu di saat jam sibuk pagi hari dan sore hari. Jika utilisasi tinggi maka rental cost per hour bisa murah. Ongkos mobilisasi-demobilisasi juga akan kecil.

Saat Lebaran Jakarta sepi, helikopter bisa di-utilisasi untuk mudik, atau untuk liburan lainnya seperti ke: Puncak, Sukabumi, Merak, dll. yang sering macet total.

Agar utilisasi tinggi, biasanya desain heli untuk berbagai kondisi dan multirole seperti: logistic, SAR, medivac, terbang tinggi, suhu ekstrim, amphibi, militer, auxiliary fuel tank, aerial refueling, dll.. Dan dilengkapi berbagai peralatan yang mahal.

Tapi kemampuan multirole tidak diperlukan untuk komuter Jabodetabek.

Nantinya dipesan dari PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) helikopter khusus komuter sesuai kondisi Jabodetabek, tidak perlu peralatan mahal selain untuk: angkut massal, terbang rendah, jarak pendek. Sehingga harganya lebih murah & kapasitas penumpang lebih banyak, maka harga ticket bisa terjangkau.

Mungkin NAS332 Super Puma dari PTDI bisa dibuat khusus untuk komuter Jabodetabek?? EC725 Super Cougar produk terbaru dari PTDI sepertinya terlalu canggih dan mahal untuk komuter.

Helikopter taxi udara sudah banyak, juga beroperasi di Jakarta. Taxi udara ekslusif dengan rute yang dapat dipilih penumpang ongkosnya sekitar US$ 1000/jam per orang. Taxi udara di Amerika untuk rute tetap Morristown-Manhattan ditempuh selama 12 menit dengan ongkos US$145 per trip per orang. Biasanya dengan helikopter ukuran medium berjumlah penumpang 4-6 orang.

Uji coba Volocopter sedang dilakukan di Dubai bekerjasama dengan Jerman. Transportasi taxi terbang ini menggunakan automatic drone tanpa pilot berkapasitas dua penumpang. Karena menggunakan sistem yang canggih, rute yang variatif, dan jumlah penumpangnya sedikit sehingga ekslusif, transportasi ini pasti akan mahal. Tapi biaya bukan masalah bagi Dubai (Uni Emirat Arab) karena pendapatan per kapita yang sangat tinggi, masuk dalam ranking 10 besar dunia.


Sebagaimana dikutip dari blog.duitpintar.com, sekedar informasi jika menggunakan ojek online yang sangat popular saat ini, ongkos untuk jarak 50 km adalah:

Tarif jam sibuk GO-RIDE atau GoJek adalah Rp 2.500 per km (jarak 0-12 km) dan di atas 12 km dikenakan Rp 3.000 per km,
maka untuk 50 km adalah: 3.000 x 50 = Rp 150.000.

GrabBike tarifnya: Rp 1.750 per km untuk 12 km pertama. Tarif di atas 12 km = Rp 3.000 per km. Biaya tambahan pada jam sibuk = Rp 2.500,
maka untuk 50 km adalah: (1.750 x 12) + (3000 x (50-12)) + 2.500 = Rp 137.500.

Untuk Uber Motor biaya dasar per perjalanan = Rp 1.000, biaya per menit = Rp 100, tarif per km pada 12 km pertama = Rp 1.250 per km, tarif per km di atas 12 km = Rp 2.000 per km.
Jika dianggap untuk jarak 50 km dapat ditempuh dalam 2 jam sama dengan 120 menit, maka:
ongkos untuk 50 km adalah: 1000 + (100 x 120) + (1.250 x 12) + (2.000 x (50-12)) = Rp 104.000

Tapi kendaraan darat tidak bisa menempuh garis lurus jika berjalan ke suatu tujuan, sehingga jarak aktualnya akan lebih jauh, maka ongkos aktualnya jadi lebih besar dari perhitungan. Dan tentu saja waktu tempuh jauh lebih lama karena adanya kemacetan.


Dengan semakin banyaknya helikopter yang diproduksi maka harga jualnya semakin murah dan semakin mudah mendapat layanan purna jual. Mungkin helikopter transportasi massal sudah bisa diterapkan di Indonesia.

Semoga idea Bus Udara transportasi massal masa depan ini bisa membantu ekonomi Jabodetabek dan sekalian membantu PTDI.